Wow, Inilah Fakta Mengerikan Dibalik Kesaksian Ganjar Pranowo, Bahkan Gunakan Nama Orang yang Sudah Meninggal


Wow, Inilah Fakta Mengerikan Dibalik Kesaksian Ganjar Pranowo, Bahkan Gunakan Nama Orang yang Sudah Meninggal

*Beda Rasanya, Bro

Dalam sidang kasus mega skandal suap e-KTP Kamis 30 Maret, salah-satu saksi, yg sekarang gubernur, eks-anggota komisi II DPR 2009-2014, mengaku kerap ditawari jatah uang oleh sesama anggota Komisi II tersebut.

Saksi: “Ada tiga kali ditawari, tapi selalu saya tolak. Sy bilang ke Bu Weni untuk ambil saja dan dibagi-bagikan. Yang keempat kalinya, ada orang yang tiba-tiba nyelonong memberikan bungkusan kepada saya. Saya kira isinya buku. Ketika saya buka, isinya berbeda. Saya langsung minta staf saya untuk kembalikan.”

Hakim: “Dibagi-bagi bagaimana ini? Kenapa Anda tidak mencegah saat tahu hal itu tidak benar?”

Saksi: “Saya tidak berpikir sampai ke situ. Saya hanya tidak ingin ikut-ikut dan menyentuh.”

Baca sekali lagi dialog di persidangan tersebut jika belum ngeh. Karena orang yang sama, beberapa tahun lalu, mengamuk habis-habisan di jembatan timbang, karena menemukan kasus pungli, menangkap basah. Itu mengamuknya keren banget loh. Divideokan, diviralkan, bla-bla-bla, sampai capek nyari kosakata lain betapa hebatnya adegan tersebut. Wow banget.

Saya tidak tahu apa bedanya dua hal ini. Jika kasus pungli jembatan timbang yg hanya ecek-ecek (milyar) dibanding e-KTP (yang 2,5 trilyun lebih jadi suap), beliau ini sudah ngamuk, seharusnya, jauh2 hari saat jadi anggota komisi II DPR, saat dia ditawari uang, dia ngamuk 1.000 lipat (ingat, dari milyar ke trilyun itu butuh 3 nol tambahan, sebesar itulah perbedaan magnitude-nya). Tapi apa yang dia bilang ke hakim? “Saya tidak berpikir sampai ke situ.” Wadow! Beda banget rasanya, Bro. Apalagi bilang, “Sy bilang ke Bu Weni untuk ambil saja dan dibagi-bagikan.”, Gile lu ndro, diambil saja? Dan dibagi-bagikan? Itu kalimat clear sekali bukan?

Adalah fakta, seluruh anggota komisi II DPR 2009-2014 mengetahui ada permainan suap-menyuap proyek ini. Situ mau bilang tidak terima, terserah situ dan fansnya. Situ sekarang mau berlagak bilang kritis, galak, menolak e-KTP, terserah situ dan fansnya. Tapi saya akan mencatat dengan baik, kalian semua coward, pengecut. Kalian adalah anggota DPR! Kalian orang kuat, jika selevel kalian saja takut, ragu, memilih diam atas suap-menyuap proyek ini, ijinkan saya bertanya: Situ nggak malu masih bilang politisi “anti korupsi”? Situ nggak malu masih bilang saya ini mau nangkepin tikus2 APBD? Bukankah waktu kalian jadi anggota DPR, kalian malah tidak berdaya sama sekali? Saat kalian bisa mencegah sesuatu dari dalam, kalian malah diam. Duuh, apa tidak jadinya, sebenarnya kalian adalah oportunis sejati. Bermain aman. Sambil mencari celah siapa tahu disangka jadi pahlawan oleh fans-nya. Siapa tahu dapat momentum dan kesempatan khas oportunis sejati.

Catat baik2, tahun 2011, di Surabaya, ada anak kelas 6 SD, yang melaporkan contek massal di sekolahnya. Anak ini diusir dari rumahnya, orang tua, wali murid, guru2 ada yang tidak terima. Keluarga anak ini dicaci, dimaki. Tapi anak kelas 6 SD ini lebih mulia, lebih terhormat. Dia siap mengunyah pahit getir menegakkan kebenaran dan keadilan. Bukan cuma drama tipu-tipu. Apa kabar anak SD ini? Apa kabar anak SD yg berani ini? Yg saya tahu, kabar dari eks anggota DPR Komisi II, ada yg jadi gubernur, ada yg jadi Menteri. Hebat2 karirnya.

Sama sekali tidak ada pembenaran atas pembiaran suap 2,5 trilyun proyek e-KTP. Itu proyek raksasa, kalian tahu persis duitnya buanyak. Kalian semua tahu persis, tapi mencegahnya tidak mampu. Sy tidak tahu, sandiwara tingkat tinggi apa yang sedang kalian mainkan. Tapi sy tidak akan percaya lagi. Silahkan jika masih ada fans kalian yg memuja-menyanjung.

Saya berdoa, semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada penyidik, jaksa KPK. Orang2 ini, melakukan pekerjaan super berat. Bahkan saat beban kerja mereka begitu hebat, mereka juga harus menghadapi masalah internal di KPK, di sana-sini. Teguhkan hati kalian, Kawan. Kokohkan kaki kalian. Selalu berdoa. Semoga Tuhan memudahkan semua urusan. Saat menghadapi gulitanya nurani, kelamnya moralitas, doa adalah senjata yang hebat.

*Tere Liye

**silahkan share, repos tulisan ini kemana2. jangan cuma share yg cinta2an melulu.

***kalian tahu kenapa nama Bu Weni, eks anggota DPR Komisi II disebut2 dengan PD banget saat pengadilan oleh temannya sesama eks anggota DPR? karena Bu Weni sudah meninggal.[www.tribunislam.com]

Sumber : Facebook Tere Liye

Sebarkan...