Waduh, Kapolri Tak Salahkan Polisi Tembak Keluarga di Lubuklinggau


Waduh, Kapolri Tak Salahkan Polisi Tembak Keluarga di Lubuklinggau

Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian menyesalkan peristiwa seorang prajuritnya, yang menembaki satu keluarga dalam mobil di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.


Namun, dia tak menyalahkan sepenuhnya tindakan itu, karena polisi memiliki kewenangan diskresi, atau kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi.

"Saya menyesalkan peristiwa di Lubuklinggau. Tetapi, tidak menyalahkan sepenuhnya, karena anggota Polisi itu mempunyai kewenangan diskresi, mulai tingkatan paling bawah hingga paling atas. Termasuk saya, sebagai pimpinan tertinggi Polisi," kata Tito, saat berada di Palembang, Jumat 28 April 2017.

Tito berpendapat, peristiwa penembakan yang menyebabkan dua orang tewas itu juga akibat kesalahan Gatot, alias Diki (30 tahun), sopir mobil Honda Civic yang berisi satu keluarga di dalamnya. Diki malah menghindari razia polisi ketika itu, lalu aparat mencurigainya sebagai pelaku kejahatan, sehingga harus dihentikan.

Dia mencontohkan peristiwa yang hampir serupa di Tuban, Jawa Timur, pada 8 April 2017. Saat itu, polisi setempat menggelar razia dan mencoba memeriksa sebuah mobil. Tetapi, mobil itu malah menerobos razia. Setelah dikejar, ternyata di dalam mobil itu ada enam orang terduga teroris yang bersenjata lengkap.

"Tetapi, untung yang di Lubuklinggau. Nanti, kita lihat apakah ada kekuatan (alasan kuat) untuk mengeluarkan tindakan, atau tidak. Pelat mobilnya juga palsu, sehingga lari dan tidak mau disetop" ujar Tito.

Dua korban tewas

Korban penembakan oknum polisi bertambah dari seorang menjadi dua orang. Korban pertama ialah Surini (54 tahun), yang tewas di lokasi penembakan pada Selasa pagi, 18 April 2017. Dia terluka tembak di dada, perut, dan paha.

Korban kedua adalah Indra (35 tahun), yang terluka tembak cukup parah di bagian leher. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Sobirin Mura di Lubuklinggau, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang. Namun, Indra tak dapat ditolong dan meninggal dunia pada Senin pagi, 24 April 2017.

Dua korban lain, yakni Novianti (30 tahun) dan Dewi (35 tahun), dinyatakan sehat walafiat, setelah dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Palembang. Mereka diizinkan pulang ke rumahnya pada Selasa 25 April 2017. Novianti mengalami dua luka tembak di lengan kanan, sedangkan Dewi terkena satu luka tembak lengan kiri.

Gatot alias Diki (30 tahun), sopir mobil yang dikendarai satu keluarga itu, juga dinyatakan membaik, setelah operasi bedah untuk mengeluarkan satu proyektil peluru yang bersarang di perutnya. Namun, dia masih dirawat di ruang intensive care unit di Rumah Sakit Sobirin Mura di Lubuklinggau. [www.tribunislam.com]

Sumber : viva.co.id

Sebarkan...