Pengakuan Mengejutkan Brigadir K Yang Menembaki Mobil Pakai Senpi SS1-V2 Secara Brutal


Pengakuan Mengejutkan Brigadir K Yang Menembaki Mobil Pakai Senpi SS1-V2 Secara Brutal

Brigadir K menjadi perhatian netizen setelah melakukan penembakan dalam mobil yang berisi delapan orang di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kepolisian, DPR RI, Ombudsman, Komnas Anak dan HAM, Kontras hingga pengamat lainnya sudah bicara soal insiden yang menewaskan satu orang dan membatalkan rencana menghadiri pesta pernikahan itu.


Penggunaan senjata laras panjang SS1-V2 (Senapan Serbu Versi 2 buatan Pindad) oleh Brigadir K menjadi salah satu hal yang dikritik. Apalagi senjata tersebut digunakan untuk melakukan razia kendaraan.

"(Penggunaan senpi laras panjang) tidak wajar dalam sebuah razia lalu lintas," ujar pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, Kamis (20/4) kemarin.

Sementara, anggota Komisi III DPR dari PPP, Arsul Sani, menyayangkan penembakan yang dilakukan oleh Brigadir K. Arsul mempertanyakan keputusan polisi tersebut yang lebih memilih menembak kaca ketimbang ban mobil saat itu.

"Kenapa kaca, bukan ban? Apakah polisi sudah lama tidak latihan menembak. Kenapa bukan bawahnya mobil yang ditembak?" kata Arsul di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
"Penembakan mobil, Komisi III menyepakati, kebetulan minggu depan akan ada raker dengan Kapolri, itu akan jadi pokok agenda raker. Kami berpandangan diskresi aparat kepolisian di lapangan dengan menembak, kalau kita lihat posisi peluru dan segala macam, bukan diskresi yang pas," sebutnya.

Pengakuan Brigadir K

Brigadir K, anggota Polres Lubuklinggau, Sumatera Selatan, yang menembaki mobil Honda City dan mengakibatkan 1 orang tewas, ditetapkan sebagai tersangka hari ini. Dia buka suara soal alasan menembaki mobil tersebut.

"Pengakuannya, dia ingin menghentikan mobil itu," kata Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto via telepon, Jumat (21/4/2017) malam.

Ternyata, kata Agung, sampai beberapa kali tembakan, mobil Honda City yang ditumpangi 8 orang tak juga berhenti. Akhirnya dengan menggunakan senjata laras panjang, Brigadir K terus menembak hingga 7 kali.

Peluru Brigadir K menyasar ke mana-mana. Salah satu penumpang, Surini (54) tewas dengan luka tembak di dada, perut, dan paha. Sedangkan beberapa penumpang lain terluka, termasuk satu anak berusia 3 tahun yang terkena rekoset (pantulan) peluru.

Seementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, keputusan dari Brigadir K untuk menembak mobil yang bermuatan enam orang itu dianggap terlalu cepat. "Karena memang perlu diteliti dulu apakah yang ada di mobil itu merupakan ancaman atau pelaku kejahatan apakah tidak. Nah di situ poinnya yang diperdalam nantinya dan dalam kaitan meneliti hal itu,” sambungnya.

Dalam kasus ini, lanjut Rikwanto, Polda Sumsel telah melakukan rekonstruksi agar detail peristiwanya. "Sudah ada korban tentunya ini kita sayangkan dan sesalkan dan kita minta maaf dalam kaitan itu dan anggota yang melakukan hal tersebut dilakukan pemeriksaan,” tukas dia.[www.tribunislam.com]

Sumber : dakwahmedia.news

Sebarkan...