Ngenes, Saat Jokowi Bagi-bagi Sepeda, Murid-murid Ini Ke Sekolah Pakai Tas Kresek, Mereka Minta Tas ke Jokowi


Ngenes, Saat Jokowi Bagi-bagi Sepeda, Murid-murid Ini Ke Sekolah Pakai Tas Kresek, Mereka Minta Tas ke Jokowi


Sejumlah anak-anak sekolah di daerah terpencil di Provinsi Kalimantan Barat meminta tas sekolah kepada Presiden Joko Widodo melalui seorang guru yang merekam permintaan mereka dan mengunggahnya di media sosial.

Dengan mengenakan seragam lusuh, dengan sandal, dan sebagian tanpa alas kaki, serta tas kresek, anak-anak sekolah dasar di Desa Sungkung, Bengkayang, mengatakan "Pak Jokowi minta tas," dalam video yang diunggah Anggit Purwoto, guru yang bertugas di daerah pedalaman ini dalam tujuh bulan terakhir.

"Yang dipakai kantong kresek dan tak pakai alas kaki. Itu keinginan mereka untuk memiliki tas dan bingung kemana harus mengadu dan mereka tahunya Presiden Jokowi," kata Anggit kepada BBC Indonesia.

Unggahan Anggit melalui akun Instagramnya ditanggapi ratusan orang.

"Sangat menginspirasi. Tidak sedikit guru-guru di kota-kota besar hanya menuntut materi," kata seorang pengguna.

"Sehat terus dek, semangat sekolah nya.biar.jadi orang yang sukses nantinya," kata yang lain.

Dalam salah satu unggahan foto-foto tempat ia mengajar, Anggit menulis, "Tulisan yg semoga membuka mata, membuka pikiran, membuka hati rakyat Indonesia...Bahwa mereka layak meraih cita-cita yang selama ini membuat mereka bertahan ke sekolah dalam kondisi seragam lusuh dan memakai tas kresek bekas!"

'Tidak akan biarkan mereka takut bermimpi'



"Saya tidak akan biarkan mereka takut bermimpi!!!! Mimpi mereka menjadi guru, tentara, dokter...," tambah Anggit yang bertugas dalam program guru di daerah terpencil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama satu tahun.

Anggit mengatakan di Sekolah Dasar 04, tempat ia mengajar terdapat sekitar 130 murid dan tiga SD lain di dekatnya mengalami kondisi yang sama.


"Lokasi SD ini juga ada SMP dan SMA, tidak ada listrik, sinyal telepon...harga bahan pokok berlipat-lipat...misalnya gas elpiji tiga kilogram Rp20.000 di jalan aspal Entikong, di Sungkung Rp 80.000," kata Anggit dalam sambungan telepon dengan BBC Indonesia saat berada di kota Bengkayang untuk mengambil bantuan dari para donatur untuk para siswa-siswi ini.

"Kondisi bangunan juga buruk, kerusakan eternit, ada bangku tapi patah-patah."

Fasilitas belajar seperti buku dan perlengkapan sekolah lain juga sulit, tambahnya.

"Saya minta anak-anak menyalin tulisan di papan tulis, dan ada siswa yang melamun dan bilang tak punya pensil."


Anggit ditugaskan untuk mengajar di SMA namun membantu mengisi kekurangan guru di SD yang hanya terdiri dari dua atau tiga tenaga guru.

Jalan menuju desa ini, cerita Anggit, perlu dua hari, dengan jalan "beraspal sampai Entikong-Sanggau...dan dua jalur, menyusui Sekayam selama 10 jam dan jalur darat dengan motor, kalau kering lima jam kalau basah lebih dari itu."

Data dari Kemendikbud menunjukkan program yang diikuti Anggit, Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) - program yang diterapkan sejak 2011- diikuti oleh sekitar 3.000 sarjana yang baru lulus untuk tahun 2016 dan tersebar di 56 kabupaten, termasuk Bengkayang.

Tujuan program seperti ini dimaksudkan untuk pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil.

Sejumlah komentar melalui Facebook BBC Indonesia mengangkat tentang kondisi di daerah mereka.

Abraham Mandaputra, antara lain, menulis, "Saya dari kabupaten Sanggau Kapuas, dari dulu ini sudah masalah menahun. jalan antar kota juga masih banyak yang belum layak. Jaman dulu kalau belum ada karya pastoral, mungkin takkan ada namanya sekolahan itu mulai dirintis di kota kabupaten."

Sementara Axel Lenzun menulis "Situasi pendidikan yang ada ada di Propinsi Maluku Utara (Pulau Mangole) di sana juga ada beberapa sekolah yang memprihatinkan serta ada beberapa murid yang perlu bantuan seragam, alat tulis menulis, sepatu."[www.tribunislam.com]

Sumber : bbc.com

Sebarkan...