Kronologi Gubernur NTB Yang Juga Ulama Dihina Dengan Makian Untuk Pribumi Oleh Salah Satu Orang Terkaya Di Indonesia


Kronologi Gubernur NTB Yang Juga Ulama Dihina Dengan Makian Untuk Pribumi Oleh Salah Satu Orang Terkaya Di Indonesia

Baru-baru ini masyarakat Indonesia, khususnya warga Nusa Tenggara Barat (NTB) dibuat meradang menyusul kejadian tak mengenakkan yang dialami oleh sang gubernurnya Tuan Guru Bajang (TGH) Muhammad Zainul Majdi saat mendapat pelecehan kasar dari seorang pengusaha muda bernama Steven Hadisurya Sulistyo. Peristiwa ini terjadi saat Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi ini melakukan atrian di Bandar Udara Changi, Singapura pada 9 April 2017 lalu.



Dimana Steven Hadisurya Sulistyo yang merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia itu mengeluarkan makian dan umpatan yang sangat tidak etis kepada Gubernur yang hafal al-Qur’an tersebut. Diawali salah paham antrian di bandara, Steven Hadisurya Sulistyo terus memaki-maki Muhammad Zainul Majdi. Bahkan setelah tahu yang dia maki adalah seorang gubernur, namun Steven terus melakukan penghinaan.

Berdasarkan keterangan yang diterima redaksi Kamis (13/4/2017) di Jakarta Steven Hadisurya Sulistyo mengeluarkan umpatan kotor terhadap Gubernur NTB dengan menyebut pribumi yaitu dengan sebutan “tiko”. Berikut ini hasil penuturan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi:

Bagaimana cerita kejadian itu?

Tendensi rasis Pak.

Jika boleh tahu bagaimana kejadiannya?

Saya dan istri sedang antri, lalu ada rombongan kecil mengaku mengantri sebelumnya marah-marah. Kami mengalah lalu pindah lane, terus diumpat-umpat. Ada sekelompok orang yang makin sombong di Republik ini Pak. Mereka pikir uang bisa membeli segalanya.

Maksudnya apakah mereka sudah antri duluan?

Nggak Pak. Saya dan Istri datang duluan. Mereka nggak ada. Kami antri, saya keluar antrian ke salah satu petugas untuk tanya info penerbangan, istri tetap di jalur antrian. Mereka datang belakangan. Saya balik gabung istri mereka ngamuk. Mereka pikir itu bukan istri saya awalnya. Malu mungkin lalu mengumpat-umpat. Kami mengalah pindah antrian masih terus diumpat. Saya adukan ke polisi setiba di Jakarta. Saya memutuskan mengadu setelah mengetahui arti kata “tiko”. Rupanya mereka punya sebutan yang sangat merendahkan pribumi.

Apa itu tiko?

Tiko, Tikus Kotor? atau Anjing Tanah. Bahkan di polres bandara pun mereka masih mengintimidasi petugas.

Bagaimana bentuk intimidasinya?

Teriak-teriak di dalam kantor sampai kemudian diusir keluar oleh seorang petugas.

Apa mereka tidak tahu jika Anda seorang Gubernur?

Setelah tahu pun tak berkurang arogansinya. Saya mebayangkan bagaimana mengenaskannya saudara-saudara kita yang kebetulan bekerja pada mereka. Kata ‘tiko’ ternyata kasar sekali loh. ‘ti’ = ‘babi’, ‘ko’ = ‘anjing’. Jadi kalau kita manggil orang-orang dalam tanda kutip pribumi itu ‘tiko’, itu sangat menghina sekali. [www.tribunislam.com]

Sumber : suaranews.co

Sebarkan...