Ini Pertanyaan yang Paling Banyak Diterima Zakir Naik Selama di Indonesia


Ini Pertanyaan yang Paling Banyak Diterima Zakir Naik Selama di Indonesia

Dr. Zakir Naik lagi-lagi mendapat pertanyaan yang sama saat acara ketiga dari rangkaian safari dakwahnya, di Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Ponorogo Jawa Timur, pada Rabu (4/4/2017) malam. Da’i internasional itu pun mengatakan bahwa pertanyaan tersebut terus saja diulang sejak kedatangannya di Indonesia.


Pertanyaan yang berulang itu yakni tentang memilih pemimpin non muslim dan tafsir surat Al Maidah. Di Unida, seorang mahasiswa bernama Muhammad Khairul menanyakan pula tafsir Surat Al Maidah ayat 51 kepada da’i asal India tersebut. “Pertanyaan yang ditanya (itu) berulang-ulang sejak saya ke Indonesia,” komentar Zakir Naik, tersenyum.

Di dalam Surat Al Maidah ayat 51, kata Zakir Naik, makna “auliya” adalah teman, penolong dan penjaga. Namun ayat tersebut bukan hanya tentang pilkada saja, melainkan untuk semua hal. “Al Qur’an tidak membahas tentang pemimpin, tapi membahas secara umum dan pemimpin termasuk di dalamnya,” jelasnya.

Mantan dokter medis yang beralih menjadi ahli perbandingan agama itu pun memaparkan bahaya jika muslimin tak menerapkan ayat tersebut. Hilangnya penjagaan Allah adalah salah satu bahayanya. “Ini sangat eksplisit dan jelas bahwa Allah mengatakan kepada muslimin, jangan ambil Yahudi dan Nasrani menjadi auliya. Allah tidak akan menolongmu jika kau memilih auliiya, protector, leader, dari Yahudi dan Nasrani. Allah tidak akan bersamamu,” papar ulama pemilik Peace TV itu.

Zakir Naik pun kemudian mengulang kembali penjelasannya saat di Bandung, saat seorang wanita peserta kuliah umum di UPI bertanya tentang memilih pemimpin non muslim. Ia berkata bahwa saat di Bandung, seorang sister mengatakan begitu banyak kebaikan dari calon pemimpin non muslim tersebut.

“Namun tetap saja kita harus memilih muslim dibanding non muslim. Ayat Al Aqur’an sudah menjelaskan itu,” tegas Naik.

Walaupun kita diberi uang berjuta-juta bermilyar-milyar, lanjut beliau, tetap saja Allah adalah yang utama. Perintah-Nya adalah memilih muslim alim, maka kita harus mengikutinya. Jangan sampai pertolongan Allah tidak datang kepada kita.

“Apa muslimin Indonesia ingin mendapat pertolongan Allah?!” tanya Zakir Naik kepada peserta yang hadir. Mereka pun menjawab bergemuruh, “Yes”. Beliau pun menegaskan sekai lagi, “Tidak ada dua opini. Saya sudah berkata kepada sister (di Bandung) sebelumnya. Jika ada seorang muslim tapi tak memberikan keuntungan untukmu, tapi dia beriman, itulah yang paling penting.”

Beliau pun kemudian mengatakan bahwa ia memahami alasan mengapa pertanyaan tentang pemimpin non muslim tersebut terus saja ia terima. Meski tak tahu menahu kandidat cagub dan cawagub, Zakir Naik mengetahui bahwa akan digelar pilkada di Jakarta. “Ini pertanyaan yang berulang. Saya tahu ada pilkada di Jakarta. Satu kristen satu muslim. Saya tidak mengenal mereka. Namun shahabat saja keberatan kalau ada akuntan berasal dari non muslim, apalagi seorang gubernur?” tuturnya.

Sebelumnya, beliau mengisahkan tentang Abu Musa Al Asy’ari yang mengangkat seorang pegawai pemerintahan beragama Nasrani. Khalifah yang memimpin saat itu, yakni Umar bin Khaththab pun keberatan.

“Ada satu kisah pada zaman shahabat, mereka memiliki pegawai sebagai akuntan dari kaum Nasrani. Khalifah Umar bin Khaththab lalu marah pada pemimpin yang memperkejarkannya. ‘Apakah tidak ada muslim yang sepandai dia?’ Kata Umar. Abu Musa Al Asy’ari menjawab, ‘Wahai amirul mukminin, orang ini sangat baik. Tidak ada yang lebih baik dari dia.’ Umar bin Khaththab pun menjawab, ‘Allah menghinakan mereka, maka saya tak akan membantu mereka.’,” demikian secara ringkas kisah yang dipaparkan Zakir Naik.

Meski begitu, Hal itu tidaklah menjadi hukum haramnya memiliki pegawai non muslim. Ulama kelahiran Mumbai tersebut tidaklah melarang untuk mengangkat pegawai non muslim. Hanya saja yang ditekankan adalah, siapa yang melindungi dan siapa yang dilindungi.

“Saya tidak berkata haram memiliki pegawai non muslim. Jangan salah sangka. (Asalkan) kalian melindungi mereka, bukan mereka melindungi kalian. Kita katakan, ‘kamu pegawaiku, maka ikutilah aturanku’. Di kantor saya, setiap orang harus salat tepat waktu, harus membaca Al Qur’an untuk meningkatkan iman. Walaupun saya tahu ada non muslim yang lebih baik (tapi utamakan muslimin),” pungkasnya.[www.tribunislam.com]

Sumber : muslimahdaily.com

Sebarkan...