Myanmar Larang Biksu Radikal Ashin Wirathu Berceramah Selama Satu Tahun


Myanmar Larang Biksu Radikal Ashin Wirathu Berceramah Selama Satu Tahun

Ashin Wirathu, biksu radikal yang kerap menyerang Muslim secara verbal, telah dilarang berceramah selama satu tahun oleh otoritas tertinggi agama Buddha di Myanmar.


Sebuah komite, yang beranggotakan 47 biksu Buddhis paling senior, mengkonfirmasi larangan itu pada hari Sabtu (11/3/2017).

Dilansir Deutsche Welle, situs berita lokal Irrawaddy mengatakan bahwa keputusan itu, yang berlaku sejak hari Jumat kemarin sampai 12 bulan ke depan, ditujukan agar biksu Ashin Wirathu tidak menyebarkan pesan kebenciannya, setidaknya untuk sementara.

Mereka memperingatkan biksu radikal itu bahwa jika larangan itu dilanggar, maka akan ada gugatan hukum terhadapnya.

Menurut laporan Irrawaddy, pernyataan itu menyebutkan bahwa ceramah-ceramah biksu berusia 49 tahun itu dimaksudkan untuk memicu percekcokan antar kelompok masyarakat dan menghambat penegakan hukum.

Otoritas tertinggi agama Buddha di Myanmar itu juga menuding Wirathu berpihak kepada partai-partai politik dengan tujuan menyulut ketegangan di masyarakat.

Wirathu adalah anggota Gerakan 969, kelompok nasionalis Buddhis yang benci terhadap Islam dan dikenal dengan aksinya yang sering melancarkan serangan verbal terhadap kelompok Muslim di negara mayoritas Buddhis itu.

Angka 969 melambangkan keutamaan Buddha, amalan Buddhis, dan komunitas Budhhis.

Wirathu juga berkaitan dengan kelompok nasionalis lainnya, Ma Ba Tha, yang konon berada dibalik kemunculan apa yang disebut sebagai UU perlindungan ras dan agama, yang menurut kelompok pemerhati HAM sebagai serangan langsung atas kelompok minoritas agama di Myanmar.

Wirathu berkali-kali dituding sebagai biang kerok kekerasan sektarian di negara bagian Rakhine (Arakan), wilayah Myanmar yang dihuni oleh sekitar 1 juta Muslim Rohingya yang berbatasan dengan Bangladesh. Wirathu menyebut Muslim sebagai “anjing-anjing gila” dan “pembuat masalah.”

Tahun 2015, Wirathu menyebut seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengkritik praktek diskriminasi Myanmar terhadap warga Muslim, sebagai seorang “pelacur.” Tidak hanya itu, belum lama ini lewan Facebook biksu radikal itu menyatakan suka cita atas kematian salah satu penasihat Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar. Penasihat itu bernama U Ko Ni, seorang pengacara terkemuka yang beragama Islam.[www.tribunislam.com]

Sumber : hidayatullah.com

Sebarkan...