Masjid Kapal Nabi Nuh Wasiat Suci Saudagar Emirat Arab


Masjid Kapal Nabi Nuh Wasiat Suci Saudagar Emirat Arab

Keberadaan masjid berbentuk kapal Nabi Nuh di Kota Semarang, Jawa Tengah, menyimpan kisah inspiratif. Muasal masjid bernama Safinatun Najah itu tak lepas peran seorang saudagar Arab.


Menurut Muhammad Barabah (30 tahun), pelaksana proyek masjid, inisiatif pembangunan masjid bermula dari wasiat suci satu keluarga di Uni Emirat Arab. Wasiat donatur utama itu menginginkan agar dibangunkan sebuah masjid dengan arsitektur bahtera Nabi Nuh di Indonesia.

"Kebetulan keluarga di Arab ini punya relasi baik dengan pemimpin yayasan di sini. Akhirnya kita cari tanah di Semarang untuk dibangun masjid pada awal 2015," kata Barabah ditemui VIVA.co.id di kompleks masjid pada Jumat, 10 Maret 2017.

Barabah bersama sejumlah pengelola yayasan lantas menyusun desain yang sesuai wasiat itu. Akhirnya diperoleh desain masjid kapal Nabi Nuh yang terinspirasi sebuah masjid di kota Islamabad, Pakistan.

"Arsitektur bangunan akhirnya kita olah dari arsitektur Arab-Pakistan namun dengan gaya lokal. Jadilah bangunan seperti ini," ujar Barabah.

Meski bergaya Pakistan, pembangunan masjid kapal itu mempekerjakan warga lokal. Bentuk dek kapal besar yang menyerupai kayu pun seluruhnya beton yang digarap apik oleh warga, sehingga mirip sebuah dek kapal berukuran raksasa.

Ada falsafah khusus kenapa bangunan masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh. Sesuai nama Safinatul Najah, kata Barabar, mengingatkan umat Islam tentang kisah Nabi Nuh saat diperintahkan Allah untuk menyelamatkan kaumnya dari bencana banjir.

"Dalam Alquran juga disebutkan barang siapa yang naik ke kapalku, maka dialah yang selamat di muka bumi. Karena itulah masjid ini dibuat menyerupai bahtera kapal Nuh," ujar warga Kota Pekalongan itu.

Pembangunan masjid itu baru mencapai delapan puluh persen namun sudah menghabiskan dana lebih Rp5 miliar. Kompleks Masjid seluas dua hektare masih akan dilengkapi sejumlah fasilitas, tak hanya untuk salat, tetapi juga dibangun klinik kesehatan serta lembaga pendidikan Islam atau pesantren.

Pemilihan lokasi masjid itu, menurut Barabah, karena kebetulan mendapatkan lahan yang relatif murah di kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan. Kebetulan lokasinya juga di areal perkebunan durian serta diapit sawah-sawah warga setempat.

Sebanyak 40 pekerja bangunan masih sibuk merampungkan pekerjaan masjid tiga lantai seluas 2.000 meter persegi itu. Pekerjaan masih difokuskan pada pembuatan kolam yang mengelilingi area masjid agar tampak seperti bahtera yang mengapung di laut.[www.tribunislam.com]

Sumber : viva.co.id

Sebarkan...