Ketika Ahok-Djarot Pilih Hadiri Pernikahan Timses dibanding Rapat Pleno


Ketika Ahok-Djarot Pilih Hadiri Pernikahan Timses dibanding Rapat Pleno

Pasangan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat membuat kaget seisi ruang pertemuan rapat pleno yang digelar KPU DKI Jakarta untuk Pilgub putaran II di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu kemarin. Mereka mendadak angkat kaki lantaran merasa tidak dilayani secara profesional.



Ahok dan Djarot merasa KPU DKI Jakarta tidak tepat waktu dalam menggelar acara. Mereka juga berdalih harus menghadiri acara pernikahan salah satu tim suksesnya. Sehingga mereka lebih memilih angkat kaki dari rapat pleno dan pergi meninggalkan lokasi acara.

"Mohon maaf kita melihat ketidakprofesional penyelenggara, kami benar benar menghargai kami datang tepat waktu sehingga kami harus mengalahkan," kata Djarot.

Djarot mengaku terpaksa tidak mengikuti acara penetapan karena ada acara lain. Sementara Ahok juga dikatakan mempunyai kegiatan. Sehingga nantinya dia menyerahkan kepada tim sukses untuk mewakili acara KPU DKI tersebut.

"Kami ada acara, Pak Basuki ada acara, kami akan meninggalnya tempat ini," tegasnya.

Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta Fayakun Andriadi mengaku Ahok-Djarot terpaksa harus tidak mengikuti acara KPU lantaran harus datang ke acara pernikahan. Sebelum angkat kaki, pihaknya mengaku bahkan sempat memprotes pihak penyelenggara lantaran acara tak kunjung dimulai.

"Acara jam 19.00 WIB, kita lengkap tapi enggak dimulai mulai kita kasih toleransi 19.15 WIB, enggak dimulai jam 20.00 WIB, makanya kita pamit. Yang keliru siapa? Yang undang siapa, semua undangan lengkap tetapi belum dimulai," ungkap Fayakun.

Meski hanya undangan pernikahan, kata dia, bagi Ahok-Djarot tetap penting. Sebab, mereka menghargai setiap undangan tanpa melihat siapa orang mengundang.

"Ya kan beliau menghargai semua orang. Apabila mas kawin terus minta dia (Ahok) datang, dia bakal datang lho," ucapnya.

Terlebih, undangan pernikahan kali ini datang dari salah satu tim suksesnya. "Ya kondangan tim sukses, teman. Ya kan kalau Sabtu dan Minggu begini kondangannya banyak," ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno membantah dalam acara tersebut adanya keterlambatan. Menurut dia, KPU DKI juga menunggu semua paslon hadir sebelum acara di mulai.

"Sebenarnya bukan keterlambatan, kita kan menunggu, kita tunggu supaya paslon itu semua hadir. Jadi kita, tadi saya datang, saya nanya, apakah sudah hadir semua, katanya ternyata belum," kata Sumarno.

Sumarno juga menegaskan keterlambatan acara bukan karena menunggu pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Hanya saja pasangan Ahok-Djarot menunggu di ruang yang tidak disiapkan KPU DKI Jakarta.

"Jadi tidak benar tadi dianggap bahwa kita menunggu paslon nomor urut 3. Nomor urut 3 juga sudah hadir. Tetapi tadi kan pasangan calon Pak Ahok Djarot berada di ruangan lain yang bukan di ruangan yang disiapkan oleh KPU," jelas Sumarno.

"Sehingga KPU tidak mengetahui bahwa beliau sudah ada di situ. Enggak ngerti, kalau sudah menunggu. Kalau memang tadi seandainya sudah tau, dan karena memang yang tadi juga sudah hadir, kita bisa mulai lebih awal," sambung Sumarno.

Untuk itu dia menyimpulkan, masalah utamanya adalah adanya kesalahpahaman. Sumarno juga mengaku terkejut saat bertemu pasangan Ahok-Djarot memasuki ruangan dan menyatakan undur diri.

"Intinya kita saling tunggu. Saya kira beliau tunggu juga sudah agak lama. Ini kok enggak dimulai-mulai nih, engga profesional. Itu maksudnya juga. Padahal kami juga menunggu," ujarnya.

Atas insiden ini, Sumarno mengaku telah meminta maaf kepada Ahok-Djarot. Namun, bila tetap disalahkan, pihaknya tetap terima dan merasa tidak masalah.

"Sudah saya sampaikan ke Pak Ahok dan Pak Djarot. Kalau KPU DKI kan biasakan disalahkan, aku rak popo (tidak apa-apa)," tambahnya.

Sumarno menambahkan, tidak ada respons berbeda dari Ahok dan Djarot atas permintaan maaf dari pihaknya. Sumarno enggan menjelaskan detail bagaimana respons keduanya. "Pak Ahok sedang kurang berkenan kan, biasalah," terangnya. [www.tribunislam.com]

Sumber : merdeka.com

Sebarkan...