Kasus Bom Teroris Dinilai Janggal, Dari Siyono Hingga Bom Bali


Kasus Bom Teroris Dinilai Janggal, Dari Siyono Hingga Bom Bali

Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ma'mun Murod Al-Barbasy menilai, hampir setiap kasus bom teroris menyisakan kejanggalan yang selalu berulang. Hal itu mengundang kritik dan tanda tanya publik yang berakibat muncul gugatan publik.


Dr. Ma'mun mengatakan, gugatan publik sebenarnya sudah mulai terasa saat mencuatnya kasus Siyono yang meninggal secara tidak wajar di tangan Densus 88. Kasus Siyono mendapat perhatian dan gugatan banyak pihak karena terjadi kejanggalan.

Muhammadiyah misalnya, sampai harus menurunkan Tim Forensik untuk mengusut kematian Siyono. "Hasilnya, kematian Siyono diyakini tidak wajar," kata Ma'mun saat Diskusi Publik tentang Deradikalisasi Paham Keagamaan di Indonesia yang diselenggarakan Himapol FISIF UMJ, Rabu (22/3).

Ia menerangkan, ditemukan banyak tanda kekerasan di tubuh Siyono, dari kepala hingga kakinya. Tim Forensik tidak menemukan adanya perlawanan dari Siyono seperti hasil pemeriksaan Densus 88. Pada tubuh Siyono juga dipastikan tidak ditemukan adanya luka akibat tindakan defensif atau pemberontakan.

Dijelaskan dia, selain itu, kasus bom ricecooker juga mendapat gugatan masyarakat. Bahkan, sampai ada yang menyebutnya sebagai rekayasa. Seperti pada kasus-kasus bom teroris sebelumnya, kasus bom ricecooker juga menyisakan kejanggalan yang memancing nalar publik untuk menggugatnya.

"Dalam kasus bom ricecooker misalnya, konon bom ini dibawa langsung dari Solo sudah dalam keadaan rakitan dan mampir dulu di Bekasi. Ini saja sudah merupakan kejanggalan tersendiri," jelasnya.

Ma'mun menjelaskan, jarak tempuh Solo-Bekasi cukup jauh. Kalau bom tersebut dibawa melalui pesawat terbang tentu tidak mungkin, sebab akan ketahuan. Sementara, jika bom dibawa melalui jalan darat, maka harus menempuh perjalanan sekurang-kurangnya selama 12 jam.

Ia mengungkapkan, apakah tidak akan membahayakan kondisi bom yang sudah dalam posisi rakitan jika dibawa melalui jalan darat. Selain itu, melihat tampilan orang yang diduga akan meledakkan Istana Negara juga tidak cukup meyakinkan. "Tentu semakin menambah kejanggalan bahwa bom ricecooker murni kerjaan teroris tanpa rekayasa," katanya.

Ia menambahkan, dikatakan juga oleh Densus 88 bahwa daya ledak bom ricecooker melebihi TNT. Hal ini semakin menambah kejanggalan karena di Indonesia yang memproduksi peledak jenis TNT hanya Pindad. Apakah kepolisian berani menuduh Pindad berada di belakang bom riceooker.

Menurutnya, pasti polisi akan menolaknya sebagaimana ketika menolak pandangan banyak pihak dalam kasus Bom Bali. Dengan berbagai alat bukti dan data-data pendukung lainnya, ada yang berkeyakinan bahwa ada kekuatan asing yang terlibat dalam kasus Bom Bali dengan mengorbankan Amrozi dan kawan-kawannya.

Sebaliknya, dikatakan dia, kepolisian tetap bersikeras dengan kronologi yang dibuatnya, bahwa Bom Bali dibuat dan dirakit secara tradisional oleh Amrozi dan kawan-kawannya dengan bahan baku bom yang dibeli dari Surabaya.

"Sebuah kronologi yang sulit dinalar. Bagaimana mungkin bom yang meledak begitu dahsyat bahkan banyak pihak menduga sebagai jenis bom C4 atau SDAM yang hanya dibuat di negara-negara yang sangat terbatas," katanya.[www.tribunislam.com]

Sumber : republika.co.id

Sebarkan...