Jembatan “Puan Maharani” Yang Dibanggakan Jokowi, Nasibmu Kini...


Jembatan “Puan Maharani” Yang Dibanggakan Jokowi, Nasibmu Kini...

Jembatan gantung Bojong Apus, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, yang baru diresmikan setahun lalu kini kondisinya sudah rusak.


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meresmikan jembatan tersebut pada Rabu 17 Februari 2016 lalu.

Padahal, jembatan yang diberi nama ”Puan Maharani” oleh warga itu sempat menjadi kebanggaan Presiden Jokowi di twitternya sesaat setelah diresmikan.

Jembatan gantung Bojong Apus merupakan salah satu dari 10 proyek jembatan gantung yang dibangun di Kabupaten Lebak yang didanai APBN 2015.

Kini, jembatan itu tidak bisa dapat dilalui oleh kendaraaan roda empat lantaran oprit jembatan terlihat retak dan tanahnya bergeser.

Padahal, umur jembatan itu baru setahun sejak diresmikan, namun kini kondisi jembatan sangat memprihatinkan.

Pengamatan INDOPOS, kondisi badan jalan menuju jembatan tampak amblas. Sehingga jika dibiarkan dan tidak segera diperbaiki tidak menutup kemungkinan jembatan tersebut akan ambruk jika aliran Sungai Cisimeut meluap.

”Dari awal pembangunan, saya sebagai warga sudah mengingatkan kepada pemborong bahwa tanah di sini labil. Sebab, saya tahu persis ini bekas lokasi galian pasir. Harusnya, pasangan pondasi jembatan menggunakan slup agar kokoh,” terang Sukarni, 42, salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari jembatan, Rabu (8/3).

Tapi peringatan Sukarni itu tidak digubris oleh pemborong. ”Malah saya di maki-maki oleh pekerja pemborong proyek jembatan itu. Buktinya sekarang jembatan itu amblas,” cetusnya juga. Senada diungkapkan Ahyadi, 35, salah satu pengguna jalan yang sering melalui jembatan gantung tersebut.

Dia mengaku khawatir jika melewati jembatan yang setahun lalu diresmikan oleh putri Megawati Soekarnoputri tersebut.

”Jujur saja, jika melewati jembatan itu ngeri. Lihat saja oprit jembatan retak retak begitu. Maka sebelum jatuh korban,pemerintah harus secepatnya melakukan perbaikan,” ujar Ahyadi.

Sedangkan Nurhasanah, warga Kapung Kedung mengaku sejak jembatan itu tidak dapat dilalui lagi oleh kendaraan roda empat, warga kini kesulitan membawa hasil bumi dari ladang mereka ke Kecamatan Rangkasbitung.

Akibatnya, warga harus memutar sejauh empat kilometer menuju jalan raya. Menurutnya, jembatan ini merupakan salah satu alternatif bagi warga melakukan aktifitas.

”Jembatan gantung ini sangat penting bagi warga dalam mengangkut barang atau hasil perkebunan menggunakan mobil. Namun, dengan kondisi jembatan yang selalu rusak, warga terpaksa harus menempuh jalur lain melalui Kampung Sentral dengan jarak yang cukup jauh,” paparnya juga.

Karena itu, dirinya berharap pemerintah segera memperbaiki lagi jembatan ”Puan Maharani” yang kembali rusak tersebut.

”Kalau bisa perbaikannya mengutamakan kualitas yang bagus agar jembatan ini bertahan lama dan manfaatnya dapat dirasakan warga,” tuturnya.

Saat peresmian setahun lalu, Puan Maharani menjelaskan pembangunan jembatan gantung di Kabupaten Lebak merupakan wujud nyata dari program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Kata Puan saat itu, negara hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Yakni mewujudkan sarana prasarana yang selama ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk kemudahan akses, memperlancar arus ekonomi dan sekaligus transportasi warga.

Sedangkan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono ketika peresmian menjelaskan, 10 unit jembatan gantung yang dibangun kementeriannya menggunakan dana APBN 2015, yang nilainya mencapai Rp 45.640.485.000.

Sayangnya hingga kini, INDOPOS belum berhasil mengkonfirmasi terkait kerusakan jembatan gantung tersebut. Bambang Hartadi, kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Wilayah Jakarta-Banten tidak menyahut saat dihubungi koran ini. Begitu juga pesan yang dikirimkan melalui WhatsApp tidak berbalas. [www.tribunislam.com]

Sumber : jpnn.com

Sebarkan...